Oleh: Fabianus
Arkhedion
Karang Kates
pukul 05.00 WIB
Pagi ini aku terjaga lebih awal dari biasanya.
Memang tidak biasanya aku terjaga pada pukul 05.00 WIB ketika liburan dan
terlebih lagi inilah hari terakhirku liburan. Entah bagaimana aku merasa begitu
berat menerima kenyataan bahwa petang nanti aku harus segera kembali ke
seminari. Ya, seminari. Tempat yang selama lima tahun ini kujadikan tempat untuk
merangkai cita-cita luhurku secuil demi secuil.
Dengan malas aku beranjak dari kasurku
sembari berdoa agar jam demi jam dihari ini tidak berjalan secepat biasanya
meski kutahu itu tidak mungkin. Dengan tidak mempedulikan selimut yang masih
berantakan, aku langsung menyambar Hand
Phone yang tergeletak dimeja kamar dan mencari nomor seseorang yang selama
beberapa hari ini mewarnai hariku. “Ah,
ketemu”, pekikku dalam hati serta tanpa banyak pertimbangan kutekan tombol Call sembari berharap dia juga sudah terjaga dari
tidurnya.
“Halo Kheonk, selamat pagi. Tumben
jam segini sudah bangun”, sapa suara dari seberang sana dengan agak malas.
Aku
tersenyum mendengar nama Kheonk yang adalah gubahan dari nama belakangku dan
sengaja dia pakai karena terinspirasi oleh kebersamaan kami di Pantai Ngliyep
seharian kemarin.
“Pagi juga Siput, aku ganggu tidur kamu nggak? Semalam aku nggak bisa
tidur”,jawabku ringan.
“Lho kenapa nggak bisa
tidur? Apa kamu kecapekan setelah antar jemput dan mengajak aku ke Pantai
Ngliyep kemarin? Maaf ya Kheonk, sudah bikin kamu kecapekan”.
Nada suaranya yang manja lagi-lagi membuatku tersenyum. Jika
kubayangkan, tentu saja kemarin adalah perjalanan yang cukup melelahkan.
Rumahku di Malang bagian selatan dan dia berada di Blitar. Dan entah berapa
kilometer telah kutempuh hanya untuk bisa membawanya pergi ke tempat yang
sangat dia inginkan selama ini yaitu Pantai Ngliyep.
“Nggak kok. Aku
nggak bisa tidur karena nanti sore
aku harus kembali lagi ke asrama dan itu berarti hari-hari kedepan akan kulalui
tanpa hadirmu disisiku Siputku yang manis”.
“Kheonk, kamu sudah
menentukan pilihan kan. Aku malah sangat senang jika kamu berhasil meraih
impianmu dan biarkan cinta yang telah terkembang diantara kita ini tumbuh
dengan sendirinya”, ucapnya menghibur kegelisahanku. Inilah yang membuatku
semakin gelisah. Kenapa dia dengan begitu mudahnya menasihatiku seakan-akan
kepergianku nanti tidak berarti apa-apa baginya.
“Benar juga, namun aku ingin ngajak kamu keluar hari ini sebelum aku berangkat nanti sore. Bisa
kan? Aku hanya butuh beberapa menit saja untuk bertemu denganmu untuk terakhir
kalinya sebelum aku berangkat nanti sore”, ucapku memelas agar dia mau sedikit
mengerti keadaanku.
“:Baik, aku tunggu. Yang penting aku bisa sejenak keluar
dari rumah dan bertemu denganmu Kheonk”.
Aku langsung menutup percakapan pagi ini dan bergegas
menuju garasi untuk memanaskan motor kesayanganku lalu segera mandi karena aku
tahu waktuku tidak banyak lagi.
Blitar
pukul
08.35 WIB
Sudah sepuluh menit lebih aku hanya terduduk dimotorku.
Rumah Siput sebenarnya tidak kurang dari serpuluh menit perjalanan dari
tempatku berhenti sekarang. Aku tidak berani langsung menyambangi rumah Siput
karena SMS darinya yang kuterima barusan menegaskan bahwa masih ada tamu
kakaknya. Aku hanya mampu bersabar dan berharap agar Tuhan benar-benar
memberiku jalan.
Disaat-saat seperti ini aku sungguh merasa bahwa
cita-cita luhur yang selama ini kurajut mulai terbentur oleh keinginan daging
yang mungkin tidak lagi mampu kupendam. Aku juga menyadari bahwa mungkin ini
semua akan menjadi sebuah batu sandungan bagiku kelak. Namun aku tidak peduli
lagi karena untuk bisa dekat dengannya seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
Ya, mimpi yang menjadi kenyataan karena aku harus menunggu lama untuk ini.
Ketika kebosanan mulai merayapi seluruh indera, kudengar
bunyi SMS yang khas. Bunyi SMS yang sengaja kupilih untuk dia seorang. Tidak
langsung aku buka isi pesan itu karena aku juga ingin sedikit meresapi alunan
lagu Dear God itu sambil membayangkan
hari ini bersama Siput.
New Mesagges
From : Siput Mniezt
Hanya dua huruf dalam pesan itu dan aku sudah tahu apa
yang harus aku lakukan. Tanpa banyak kata, kukebut motorku menuju rumahnya.
Memang benar bahwa dia sudah siap dengan celana pensil dan kaos santai ala
kadarnya yang membuatnya semakin imut. Aku masih terpaku ketika dia mulai naik
ke motorku.
“Mau kemana kita hari ini?”, Tanya Siput sembari
melingkarkan tangan diperutku.
“Aku juga bingung. Ehm,
gimana kalau kita ke taman kota saja sambil menikmati bakso dan cilot bakar
kesukaanmu?”.
“Oke dech,
ayo he..he..he…”.
Motor yang tadinya kupacu
kencang-kencang, kini kupacu lebih santai. Kemacetan yang padat karena arus
lebaran, kini kurasakan tidak begitu menyiksa lagi karena kehadiran Siput.
Bahkan candaannya sepanjang jalan membuatku tidak pernah sekalipun membuatku
bosan. Perlahan namun pasti akhirnya kami sampai di parkiran taman kota .
Kebon Rojo Blitar
Pukul 08.58 WIB
Karena masih pagi maka
suasana warung bakso dan cilot langganannya masih sepi. Kami langsung memesan
dua porsi bakso serta 20 tusuk cilot bakar untuk kami nikmati dibawah
rindangnya pohon pinus tempat kami benyak menghabiskan waktu beberapa hari ini.
Kami duduk dalam bisu karena kami tahu bahwa dalam kebisuan ini hati kami akan
berbicara banyak.
Kukeluarkan MP3. Open
File… Songs… Heavy Metal… Open File… Avenged Sevenfold… Speaker Selected…. Play…So Far Away. Avenged
Sevenfold.
Sleep
tight, I'm not afraid.
The
ones that we love are here with me.
Lay
away a place for me.
Cause
as soon as I'm done I'll be on my way, To live eternally..
Kugenggam tangannya dan
kulihat dia mulai memejamkan matanya. “Aku sungguh berterimakasih. Aku
beterimakasih karena kau telah memberi warna pada hari-hariku akhir-akhir ini. Disini,
ditempat kita duduk sekarang akan kuguratkan namaku dan namamu di kulit pohon
ini. Pohon ini telah menyaksikan
semuanya dan mungkin pohon ini juga merasakan getaran perasaanku saat ini. Aku nggak pernah tahu bagaimana kisah ini
kedepannya, tapi aku yakin akan happy
ending.”
Kata-kata itu terucap
begitu saja dari lubuk hatiku terdalam. Tanganku masih menggenggam tangannya
bahkan semakin kuat seakan-akan ini adalah saat terakhirku bertemu dengannya.
“Kheonk sayang, mungkin kita
berjalan di jalur yang salah. Aku tahu kamu saat ini siapa dan apa yang
sebelumnya ingin kau capai. Tapi aku juga berterimakasih karena dengan
kejujuranmu, kau telah banyak mengajariku apa arti cinta.” Ucapnya lirih sambil
meneteskan air mata. “Aku nggak ingin
kamu terburu-buru untuk memutus mimpi dan cita-cita kamu saat ini juga. Biarlah
kisah kita menggantung bersama udara yang setiap saat kita hirup. Agar dengan demikian kita bisa mengenang setiap detik
yang kita lalui bersama. Aku akan menunggu dan kuharap kamu bisa memilih yang
terbaik Kheonk. Whether
you believe you can or whether you believe you can’t… you’re absolutely right!”
Aku tersenyum karena
aku tahu bahwa aku mencintai orang yang benar. Quote Henry Ford yang biasa dia ucapkan seakan menggema dalam
batinku. Aku merasa bebas dan lebih bebas dari sebelumnya. Justru karena
persimpangan ini aku bisa mengerti arti mencintai dan dicintai. Cinta tidak
sebatas pada pegangan tangan, pelukan, ciuman, dan lain sebagainya. Namun lebih
pada bagaimana aku rasa yang tumbuh diantara dua anak manusia bisa semakin
mengembangkan dan tidak mengikat.
Waktu terus berlalu dan tanpa terasa
matahari telah tepat diatas kami. Aku langsung membayar makanan yang kami pesan
yang tidak kami sentuh sebelumnya. Sepanjang
perjalanan mengantar Siput pulang, tidak ada sepatah katapun terucap. Namun
tangannya yang melingkar diperutku tidak sedetikpun terlepas. Siang ini,
lengkap sudah kuliah tentang Cinta, Ketlusan, Kejujuran, Kesetiaan, dan Hidup.
Dan
tepat pukul 13.15 WIB kukecup lembut keningnya untuk mengungkapkan bahwa aku
sangat mencintainya dan sekaligus sebagai ucapan selamat tinggalku….
*****
Langsep,
Malang
Pukul
17.50 WIB
Tidak kurang dari 50 meter lagi aku sudah sampai di
asrama tercinta tempatku mengolah hidup dan merangkai serpihan demi serpihan
cita-cita. Aku masih duduk di jalan menuju real
estate sebelah asramaku. Asap rokokku yang membumbung tipis seakan
mengajakku untuk perlahan melepas setiap kenangan yang telah kugores dan terus
berputar dalam otakku. Melepas berarti tidak melupakan namun lebih pada
membiarkan setiap kenangan itu menyatu dengan sang waktu. Aku ambil lagi MP3 yang
senantiasa menemaniku. Open
File… Songs… Punkrockabilly… Open
File… Superman is Dead… Speaker
Selected…. Play… Senja ditanah Anarki. Superman is Dead.
Ku basuh luka dengan air mata.
Oh hatimu beku,serta jiwa mu yang lelah
tak henti lawan dunia, dengan mimpi besar untuk cinta
dan jalan mu untuk pulang, di ujung waktu kan ada cahaya..
Itulah aku,raihlah mimpimu
Kuhembus asap rokok terakhir dan kusiap tuk
beranjak. Kakiku mulai melangkah kedalam asramaku tercinta dan langsung
disambut dengan berbagai polah tingkah kawan-kawanku yang khas. Genderang
perang telah ditabuh dan tidak ada alasan untuk menyerah. Mimpi, cita-cita, dan
cinta. Formula yang tepat namun terkadang memabukkan. Tapi saat ini aku disini
dan sekarang ini adalah saatnya.
Senyumku
kembali mengembang dan yakin bahwa aku tidak salah dengan langkahku. Hidup ini
tuhan yang memberikan, namun aku sendiri penentu tujuannya. Selamat tinggal
masa lalu, tersenyumlah bersamaku dalam setiap pilihan yang kupilih. Bersulang untuk hidup
dan setiap pilihannya….

Posting Komentar