BREAKING NEWS

PERISTIWA

LUCU

INSPIRATIF

Sabtu, 28 November 2015

HIDUP : Cinta, Pilihan, dan Harapan


HIDUP : Cinta, Pilihan, dan Harapan
Oleh: Fabianus Arkhedion


Karang Kates
pukul 05.00 WIB
Pagi ini aku terjaga lebih awal dari biasanya. Memang tidak biasanya aku terjaga pada pukul 05.00 WIB ketika liburan dan terlebih lagi inilah hari terakhirku liburan. Entah bagaimana aku merasa begitu berat menerima kenyataan bahwa petang nanti aku harus segera kembali ke seminari. Ya, seminari. Tempat yang selama lima tahun ini kujadikan tempat untuk merangkai cita-cita luhurku secuil demi secuil.
            Dengan malas aku beranjak dari kasurku sembari berdoa agar jam demi jam dihari ini tidak berjalan secepat biasanya meski kutahu itu tidak mungkin. Dengan tidak mempedulikan selimut yang masih berantakan, aku langsung menyambar Hand Phone yang tergeletak dimeja kamar dan mencari nomor seseorang yang selama beberapa hari ini mewarnai hariku. “Ah, ketemu”, pekikku dalam hati serta tanpa banyak pertimbangan kutekan tombol Call  sembari berharap dia juga sudah terjaga dari tidurnya.
            “Halo Kheonk, selamat pagi. Tumben jam segini sudah bangun”, sapa suara dari seberang sana dengan agak malas.
Aku tersenyum mendengar nama Kheonk yang adalah gubahan dari nama belakangku dan sengaja dia pakai karena terinspirasi oleh kebersamaan kami di Pantai Ngliyep seharian kemarin.
“Pagi juga Siput, aku ganggu tidur kamu nggak? Semalam aku nggak bisa tidur”,jawabku ringan.
“Lho kenapa nggak bisa tidur? Apa kamu kecapekan setelah antar jemput dan mengajak aku ke Pantai Ngliyep kemarin? Maaf ya Kheonk, sudah bikin kamu kecapekan”.
Nada suaranya yang manja lagi-lagi membuatku tersenyum. Jika kubayangkan, tentu saja kemarin adalah perjalanan yang cukup melelahkan. Rumahku di Malang bagian selatan dan dia berada di Blitar. Dan entah berapa kilometer telah kutempuh hanya untuk bisa membawanya pergi ke tempat yang sangat dia inginkan selama ini yaitu Pantai Ngliyep.
Nggak kok. Aku nggak bisa tidur karena nanti sore aku harus kembali lagi ke asrama dan itu berarti hari-hari kedepan akan kulalui tanpa hadirmu disisiku Siputku yang manis”.
Kheonk, kamu sudah menentukan pilihan kan. Aku malah sangat senang jika kamu berhasil meraih impianmu dan biarkan cinta yang telah terkembang diantara kita ini tumbuh dengan sendirinya”, ucapnya menghibur kegelisahanku. Inilah yang membuatku semakin gelisah. Kenapa dia dengan begitu mudahnya menasihatiku seakan-akan kepergianku nanti tidak berarti apa-apa baginya.
“Benar juga, namun aku ingin ngajak kamu keluar hari ini sebelum aku berangkat nanti sore. Bisa kan? Aku hanya butuh beberapa menit saja untuk bertemu denganmu untuk terakhir kalinya sebelum aku berangkat nanti sore”, ucapku memelas agar dia mau sedikit mengerti keadaanku.
“:Baik, aku tunggu. Yang penting aku bisa sejenak keluar dari rumah dan bertemu denganmu Kheonk”.
Aku langsung menutup percakapan pagi ini dan bergegas menuju garasi untuk memanaskan motor kesayanganku lalu segera mandi karena aku tahu waktuku tidak banyak lagi.

Blitar
pukul 08.35 WIB
Sudah sepuluh menit lebih aku hanya terduduk dimotorku. Rumah Siput sebenarnya tidak kurang dari serpuluh menit perjalanan dari tempatku berhenti sekarang. Aku tidak berani langsung menyambangi rumah Siput karena SMS darinya yang kuterima barusan menegaskan bahwa masih ada tamu kakaknya. Aku hanya mampu bersabar dan berharap agar Tuhan benar-benar memberiku jalan.
Disaat-saat seperti ini aku sungguh merasa bahwa cita-cita luhur yang selama ini kurajut mulai terbentur oleh keinginan daging yang mungkin tidak lagi mampu kupendam. Aku juga menyadari bahwa mungkin ini semua akan menjadi sebuah batu sandungan bagiku kelak. Namun aku tidak peduli lagi karena untuk bisa dekat dengannya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Ya, mimpi yang menjadi kenyataan karena aku harus menunggu lama untuk ini.
Ketika kebosanan mulai merayapi seluruh indera, kudengar bunyi SMS yang khas. Bunyi SMS yang sengaja kupilih untuk dia seorang. Tidak langsung aku buka isi pesan itu karena aku juga ingin sedikit meresapi alunan lagu Dear God itu sambil membayangkan hari ini bersama Siput.
New Mesagges
From : Siput Mniezt
Hanya dua huruf dalam pesan itu dan aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Tanpa banyak kata, kukebut motorku menuju rumahnya. Memang benar bahwa dia sudah siap dengan celana pensil dan kaos santai ala kadarnya yang membuatnya semakin imut. Aku masih terpaku ketika dia mulai naik ke motorku.
“Mau kemana kita hari ini?”, Tanya Siput sembari melingkarkan tangan diperutku.
“Aku juga bingung. Ehm, gimana kalau kita ke taman kota saja sambil menikmati bakso dan cilot bakar kesukaanmu?”.
“Oke dech, ayo he..he..he…”.
            Motor yang tadinya kupacu kencang-kencang, kini kupacu lebih santai. Kemacetan yang padat karena arus lebaran, kini kurasakan tidak begitu menyiksa lagi karena kehadiran Siput. Bahkan candaannya sepanjang jalan membuatku tidak pernah sekalipun membuatku bosan. Perlahan namun pasti akhirnya kami sampai di parkiran taman kota.

Kebon Rojo Blitar
Pukul 08.58 WIB
            Karena masih pagi maka suasana warung bakso dan cilot langganannya masih sepi. Kami langsung memesan dua porsi bakso serta 20 tusuk cilot bakar untuk kami nikmati dibawah rindangnya pohon pinus tempat kami benyak menghabiskan waktu beberapa hari ini. Kami duduk dalam bisu karena kami tahu bahwa dalam kebisuan ini hati kami akan berbicara banyak.
            Kukeluarkan MP3. Open File… Songs… Heavy Metal… Open File… Avenged Sevenfold…  Speaker Selected…. Play…So Far Away. Avenged Sevenfold.
Sleep tight, I'm not afraid.
The ones that we love are here with me.
Lay away a place for me.
Cause as soon as I'm done I'll be on my way, To live eternally..
            Kugenggam tangannya dan kulihat dia mulai memejamkan matanya. “Aku sungguh berterimakasih. Aku beterimakasih karena kau telah memberi warna pada hari-hariku akhir-akhir ini. Disini, ditempat kita duduk sekarang akan kuguratkan namaku dan namamu di kulit pohon ini. Pohon ini  telah menyaksikan semuanya dan mungkin pohon ini juga merasakan getaran perasaanku saat ini. Aku nggak pernah tahu bagaimana kisah ini kedepannya, tapi aku yakin akan happy ending.”
            Kata-kata itu terucap begitu saja dari lubuk hatiku terdalam. Tanganku masih menggenggam tangannya bahkan semakin kuat seakan-akan ini adalah saat terakhirku bertemu dengannya.
            “Kheonk sayang, mungkin kita berjalan di jalur yang salah. Aku tahu kamu saat ini siapa dan apa yang sebelumnya ingin kau capai. Tapi aku juga berterimakasih karena dengan kejujuranmu, kau telah banyak mengajariku apa arti cinta.” Ucapnya lirih sambil meneteskan air mata. “Aku nggak ingin kamu terburu-buru untuk memutus mimpi dan cita-cita kamu saat ini juga. Biarlah kisah kita menggantung bersama udara yang setiap saat kita hirup. Agar dengan demikian kita bisa mengenang setiap detik yang kita lalui bersama. Aku akan menunggu dan kuharap kamu bisa memilih yang terbaik Kheonk. Whether you believe you can or whether you believe you can’t… you’re absolutely right!”
            Aku tersenyum karena aku tahu bahwa aku mencintai orang yang benar. Quote Henry Ford yang biasa dia ucapkan seakan menggema dalam batinku. Aku merasa bebas dan lebih bebas dari sebelumnya. Justru karena persimpangan ini aku bisa mengerti arti mencintai dan dicintai. Cinta tidak sebatas pada pegangan tangan, pelukan, ciuman, dan lain sebagainya. Namun lebih pada bagaimana aku rasa yang tumbuh diantara dua anak manusia bisa semakin mengembangkan dan tidak mengikat.
            Waktu terus berlalu dan tanpa terasa matahari telah tepat diatas kami. Aku langsung membayar makanan yang kami pesan yang tidak kami sentuh sebelumnya. Sepanjang perjalanan mengantar Siput pulang, tidak ada sepatah katapun terucap. Namun tangannya yang melingkar diperutku tidak sedetikpun terlepas. Siang ini, lengkap sudah kuliah tentang Cinta, Ketlusan, Kejujuran, Kesetiaan, dan Hidup.
            Dan tepat pukul 13.15 WIB kukecup lembut keningnya untuk mengungkapkan bahwa aku sangat mencintainya dan sekaligus sebagai ucapan selamat tinggalku….

*****
Langsep, Malang
Pukul 17.50 WIB
            Tidak kurang dari 50 meter lagi aku sudah sampai di asrama tercinta tempatku mengolah hidup dan merangkai serpihan demi serpihan cita-cita. Aku masih duduk di jalan menuju real estate sebelah asramaku. Asap rokokku yang membumbung tipis seakan mengajakku untuk perlahan melepas setiap kenangan yang telah kugores dan terus berputar dalam otakku. Melepas berarti tidak melupakan namun lebih pada membiarkan setiap kenangan itu menyatu dengan sang waktu. Aku ambil lagi MP3 yang senantiasa menemaniku.  Open File… Songs… Punkrockabilly… Open File… Superman is Dead…  Speaker Selected…. Play… Senja ditanah Anarki. Superman is Dead.
Ku basuh luka dengan air mata.
Oh hatimu beku,serta jiwa mu yang lelah
tak henti lawan dunia, dengan mimpi besar untuk cinta
dan jalan mu untuk pulang, di ujung waktu kan ada cahaya..
Itulah aku,raihlah mimpimu

            Kuhembus asap rokok terakhir dan kusiap tuk beranjak. Kakiku mulai melangkah kedalam asramaku tercinta dan langsung disambut dengan berbagai polah tingkah kawan-kawanku yang khas. Genderang perang telah ditabuh dan tidak ada alasan untuk menyerah. Mimpi, cita-cita, dan cinta. Formula yang tepat namun terkadang memabukkan. Tapi saat ini aku disini dan sekarang ini adalah saatnya.
            Senyumku kembali mengembang dan yakin bahwa aku tidak salah dengan langkahku. Hidup ini tuhan yang memberikan, namun aku sendiri penentu tujuannya. Selamat tinggal masa lalu, tersenyumlah bersamaku dalam setiap pilihan yang kupilih. Bersulang untuk hidup dan setiap pilihannya….
           





                    
 
    

  



               

Posting Komentar

 
Copyright © 2013 Cangkul-Tua
Shared by Themes24x7Powered byBlogger