Kehilangan sang buah hati tentu menyedihkan. Terutama bagi seorang
ibu. Kenangan saat anak masih dalam kandungan, lahir, dan diberikan
segala bentuk perhatian serta kasih sayang sejak kecil hingga dewasa
menjadi momen yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup.
Untuk bisa ikhlas melepas kepergiannya, tentu sulit dan butuh waktu
lama. Namun seiring berjalannya waktu para orangtua yang ditinggal pergi
sang buah hati tercinta untuk selama-lamanya harus menerima kenyataan
tersebut.
Seperti yang dialami oleh seorang ibu di Shanghai, China belum lama
ini. Yi Jiefeng akhirnya menemukan cara untuk bisa mengatasi
kesedihannya sejak ditinggal pergi anak laki satu-satunya, Yang Ruizhe
pada tahun 2000.
Yang, tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di Jepang. Insiden tragis itu membuat hati wanita ini hancur berkeping-keping.
Selama 12 tahun terakhir, seperti dilansir dari Odditycentral.com,
Sabtu (19/3/2016), Yi panggilan akrabnya telah menanam jutaan pohon di
Daerah Otonomi Mongolia Dalam, China utara. Selain untuk mereboisasi
Gurun Alashan menjadi sebuah lahan hijau, Yi ingin tetap menjaga
kenangan indah bersama anaknya yang telah meninggal 16 tahun yang lalu.
"Dia menyukai alam sejak masih kecil," katanya. "Dia (Yang) begitu
khawatir tentang hal-hal alami seperti angin, hujan, tanaman, dan
hewan," kata Yi.
Dengan uang asuransi putranya sebesar 30 juta yen atau sekitar Rp 3,5
miliar, Yi dan suaminya membuat sebuah organisasi non profit 'Green Life' pada tahun 2003.
Karena tidak mempunyai banyak pengetahuan tentang pertanian saat itu,
pada musim tanam pertama mereka tidak berhasil. Dikarenakan curah hujan
yang turun sangat kecil ditambah dengan angin kencang dan pergeseran
pasir membuat bibit tanaman tertiup angin.
Saat Green Life mulai fokus pada penanaman hutan kembali di
lahan tandus, sebuah proyek yang jauh lebih besar tentang degradasi
lahan atau perubahan kondisi lingkungan yang disebabkan oleh ulah
manusia, contohnya banjir dan longsor menanti Yi dan suaminya. Yaitu
menjadikan lahan tersebut menjadi sebuah padang rumput yang hijau.
"Awalnya saya melakukan kegiatan amal ini sebagai seorang ibu yang ingin mewujudkan impian anaknya," kata Yi kepada CNN.
"Tapi kemudian saya menyadari bahwa China memiliki masalah
penggurunan -- lahan yang berubah jadi tandus -- yang sangat serius.
Jika situasi terus memburuk, bagaimana bisa 1,3 miliar rakyat China bisa
bertahan hidup? Jadi kami merasa punya tanggungjawab sosial."
Pada tahun 2008, jumlah relawan dan pendonor dalam organisasi ini
semakin meningkat. Banyak dari mereka adalah para orangtua yang
kehilangan anak-anaknya. Seperti halnya Yi, mereka berharap akan
menemukan penghiburan melalui tugas mulia tersebut.
"Sangat mudah untuk mematahkan sebuah sumpit. Tapi saat kumpulan
sumpit disatukan, ia tak terpatahkan," kata seorang ibu yang
telah kehilangan anak remajanya akibat kanker.
Sumber: http://global.liputan6.com/read/2463049/kenang-anak-yang-telah-meninggal-ibu-ini-ubah-gurun-jadi-hutan
Posting Komentar